New York, AS – Sebuah pengumuman yang mengejutkan datang dari Corporation for Public Broadcasting (CPB).
Setelah bertahun-tahun menjadi salah satu pilar media publik yang terpercaya di Amerika Serikat, lembaga nirlaba yang bertugas mendistribusikan dana federal ke stasiun radio dan televisi publik ini, mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan operasionalnya.
Keputusan ini merupakan dampak langsung dari pemotongan anggaran yang disahkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Patricia Harrison, Presiden CPB dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa meskipun usaha keras telah dilakukan oleh jutaan warga Amerika untuk mempertahankan pendanaan federal untuk CPB, kenyataan pahit harus diterima.
“Meskipun upaya luar biasa dari jutaan orang yang menelepon, menulis surat, dan mengajukan petisi kepada Kongres, kami kini menghadapi kenyataan sulit untuk menutup operasi kami,” kata Harrison kepada Reuters.
Seiring berjalannya waktu, CPB mengungkapkan bahwa mereka akan tetap beroperasi selama enam bulan ke depan dengan staf yang lebih sedikit.
Namun, pada 30 September 2025, sebagian besar karyawan akan diberhentikan, dan hanya tim kecil yang tersisa untuk menutup lembaga ini secara bertanggung jawab hingga Januari 2026.
Keputusan pemotongan anggaran ini berakar dari dua langkah legislasi besar yang disetujui bulan lalu.
Yang pertama adalah Rescission Act of 2025, yang dirancang untuk membatalkan pendanaan yang sebelumnya disetujui oleh Kongres.
Pemotongan ini menargetkan berbagai program pemerintah yang dianggap berlebihan, termasuk pendanaan untuk penyiaran publik.
Senat melalui voting 51-48 menyetujui undang-undang ini, yang kemudian disusul dengan persetujuan yang lebih ketat di Dewan Perwakilan Rakyat dengan margin 216-213.
Tidak hanya itu, pada 31 Juli 2025, Komite Penganggaran Senat mengungkapkan RUU pendanaan untuk 2026 yang tidak menyisihkan dana apapun untuk CPB.
Dampak Media Pada Publik
Keputusan ini menandai berakhirnya lebih dari lima dekade kontribusi CPB dalam menyediakan layanan penyiaran publik.
Menurut data CPB, organisasi ini telah menjadi tempat utama untuk program-program pendidikan dan budaya, dan menyampaikan pemberitahuan darurat kepada masyarakat Amerika.
NPR (National Public Radio) yang merupakan salah satu lembaga mitra CPB, memiliki 43 juta pendengar setiap minggu, sementara PBS (Public Broadcasting Service) menjangkau 130 juta orang tiap tahunnya.
Namun, di balik kesuksesan ini, penurunan dana publik bukanlah hal baru. Sejak era Presiden Richard Nixon pada 1970-an, Partai Republik memang sering menyuarakan ketidakpuasan terhadap pendanaan media publik.
Dilansir dari AP News, pada 1972, Nixon bahkan memveto RUU yang akan meningkatkan anggaran untuk penyiaran publik, membuka jalan bagi tren yang terus berlanjut hingga masa pemerintahan Trump.
Trump sendiri selama masa jabatan keduanya, mengecam media publik seperti NPR dan PBS, serta menuduh mereka sebagai “tempat penyebaran propaganda “kiri”.
“Penting sekali bagi semua anggota Partai Republik untuk mendukung Recissions Bill saya, terutama memotong dana untuk Corporation for Public Broadcasting (PBS dan NPR), yang lebih buruk dari CNN dan MSDNC,” tulis Trump di media sosialnya.
Fokus Pendidikan & Partisipasi Publik
Meski mendapatkan penolakan yang besar, terutama dari kelompok yang merasa dirugikan oleh pemotongan ini, Patricia Harrison berpendapat bahwa keputusan ini adalah kehilangan besar bagi pendidikan dan keterlibatan masyarakat.
“Media publik telah menjadi salah satu institusi yang paling terpercaya dalam kehidupan Amerika, memberikan kesempatan pendidikan, peringatan darurat, diskusi sipil, dan koneksi budaya ke setiap sudut negara,” ungkap Harrison, menambahkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah bekerja tanpa lelah untuk melayani publik.
Dengan penutupan ini, masa depan media publik di Amerika Serikat dinilai berada di persimpangan jalan.
Beberapa kalangan mendesak agar masyarakat dan pemerintah lebih peka terhadap peran vital media publik, dalam membangun kesadaran kolektif dan pendidikan. (YA)
Baca juga :





