Wrexham, Inggris – Piala FA tidak pernah gagal menyajikan drama, dan Wrexham hampir saja menuliskan sejarah paling kelam bagi Chelsea musim ini.
Lewat pertarungan melelahkan selama 125 menit, The Blues akhirnya berhasil menundukkan perlawanan spartan tuan rumah dengan skor 4-2 di Racecourse Ground.
Dibuat Gemetar Tim Championship
Chelsea datang ke Wales dengan sembilan perubahan wajah, sebuah perjudian yang nyaris dibayar mahal Liam Rosenior.
- Baru 18 menit laga berjalan, Sam Smith sudah membuat seisi stadion meledak lewat gol pembukanya. Chelsea tampak kebingungan menghadapi pressing tinggi Wrexham yang tanpa ampun.
- Keberuntungan sempat memayungi tim tamu saat sapuan pemain Wrexham justru mengenai punggung kiper sendiri dan berbuah gol penyama kedudukan.
Namun, laga ini bukan tentang keberuntungan semata. Saat Callum Doyle kembali membawa Wrexham unggul 2-1 di menit ke-79, Chelsea benar-benar berada di ambang eliminasi.
Mentalitas Baja & Keunggulan Numerik

Di sinilah letak perbedaannya. Josh Acheampong, pemain muda yang tampil berani, meledakkan harapan tuan rumah hanya tiga menit setelah gol Doyle.
- Tendangan “petir”-nya ke langit-langit gawang memastikan napas Chelsea berlanjut ke babak tambahan.
- Bencana bagi Wrexham datang saat George Dobson diusir wasit, setelah VAR mengonfirmasi pelanggaran horornya terhadap Garnacho.
- Bermain melawan 10 orang, Chelsea akhirnya menemukan celah. Alejandro Garnacho membuktikan kelasnya sebagai pemain masa depan dengan voli tenang di menit ke-96.
- Gol penyama kedudukan Wrexham di menit ke-114 dianulir karena offside tipis, setelah adanya intervensi VAR.
- Kemudian giliran Joao Pedro menutup pesta di detik-detik terakhir laga (125′).
Kemenangan ini adalah modal penting, meski melelahkan, sebelum Chelsea terbang ke Prancis untuk menghadapi PSG di Liga Champions.
Liam Rosenior mengakui bahwa timnya memiliki “kebiasaan buruk” tertinggal lebih dulu, sebuah lubang yang harus segera ditutup jika tidak ingin hancur di tangan Paris Saint-Germain. (*)
Baca juga :





