Tijuana, Meksiko – Di peta, jarak dari Arizona ke Los Angeles hanyalah garis lurus yang membosankan, bagi sebuah tim sepakbola yang bersiap menghadapi pesta terbesar di dunia.
Namun, ketika tensi geopolitik global ikut campur, garis lurus itu mendadak bengkok melewati batas negara, memaksa Tim Nasional Iran menulis ulang taktik logistik mereka menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026.
Akibat penolakan otoritas Amerika Serikat untuk mengizinkan skuad menginap di wilayah mereka selama turnamen, Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum secara resmi mengumumkan bahwa pemerintahannya siap menampung Timnas Iran di Tijuana.
Keputusan ini mengubah total rencana dasar (base camp) awal Iran yang semula berada di Tucson, Arizona, menjadi sebuah skenario komuter lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern turnamen FIFA.
Langkah darurat ini harus diambil, setelah Washington menyatakan keberatan mereka untuk memfasilitasi masa tinggal skuad Iran sepanjang kompetisi yang berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026, meskipun tim tersebut dijadwalkan melakoni tiga laga Grup G di tanah Amerika.
Atas permintaan langsung dari FIFA yang kebingungan mencari solusi akomodasi, Meksiko membuka pintu perbatasan mereka di Tijuana sebagai markas pengganti.
Iran kini dipaksa menjalani rutinitas unik, tidur dan berlatih dengan aman di Meksiko, lalu terbang atau melintasi perbatasan ke Amerika Serikat hanya pada hari pertandingan mereka sebelum langsung bertolak kembali.
Pengusiran Dari Negeri Paman Sam
Ketegangan yang membayangi persiapan Piala Dunia Iran sebenarnya telah terendus sejak akhir Februari, ketika konflik bersenjata pecah di Timur Tengah melibatkan serangan AS dan Israel ke Iran.
Situasi ini langsung memicu keraguan besar, terkait keselamatan dan kepastian visa para pemain.
Dilansir dari BBC News, Presiden AS Donald Trump sempat melontarkan pernyataan bernada protektif pada Maret lalu, dengan menyebut bahwa kehadiran Iran di dalam negeri kurang tepat demi “kelangsungan hidup dan keselamatan mereka sendiri.”
Sikap waspada ini kemudian dikonkretkan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio yang menegaskan bahwa individu-individu di dalam skuad dengan rekam jejak wajib militer di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan menghadapi pembatasan masuk yang sangat ketat.

Melihat situasi yang buntu di utara, Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum bergerak cepat memberikan kepastian setelah berdiskusi langsung dengan otoritas tertinggi sepakbola dunia.
“Amerika Serikat tidak ingin tim Iran menginap di sana, padahal mereka bakal melakoni tiga pertandingan di AS. Jadi mereka bertanya kepada kami: ‘Bisa tidak kalau mereka menginap di Meksiko?’ Dan kami jawab: ‘Bisa, tidak masalah.’ Kami sama sekali tidak keberatan,” ungkap Claudia Sheinbaum dalam konferensi persnya dikutip dari The Guardian.
Detail Logistik & Jadwal Lintas Batas
Meskipun harus menghadapi kendala politik yang rumit, FIFA memastikan bahwa jadwal pertandingan dan status keikutsertaan Iran di Grup G tidak akan mengalami perubahan.
Timnas Iran yang lolos meyakinkan setelah memuncaki grup pada putaran ketiga kualifikasi zona Asia tahun lalu, akan menghadapi rute perjalanan melelahkan untuk tiga laga berikut:
- 15 Juni 2026: Melawan Selandia Baru (Bertanding di Los Angeles, AS)
- 21 Juni 2026: Melawan Belgia (Bertanding di Los Angeles, AS)
- 26 Juni 2026: Melawan Mesir (Bertanding di Seattle, AS)
Dilansir dari The Guardian, untuk meminimalkan kelelahan pemain akibat perjalanan jauh, Federasi Sepakbola Iran (FFIRI) bersama FIFA menyepakati pemindahan markas ke Centro Xoloitzcuintle di Tijuana, sebuah kompleks latihan modern milik klub divisi pertama Meksiko, Xolos.
Pilihan kota perbatasan ini dinilai sangat strategis oleh Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, karena memangkas jarak perjalanan menuju dua laga awal mereka di Los Angeles jika dibandingkan dengan tempat latihan mereka sebelumnya di Antalya, Turki selatan.
Selain itu, Kepala Federasi Sepakbola Iran, Mehdi Taj menjelaskan bahwa peralihan ini membawa berkah tersendiri, karena mempermudah urusan logistik penerbangan langsung Iran Air ke Meksiko serta memotong birokrasi visa yang berbelit.
Drama 10 Syarat & Ketidakpastian Visa
Perjalanan Iran menuju kick-off Juni 2026 memang dipenuhi drama internal. FFIRI sempat menyodorkan daftar berisi 10 syarat kepada FIFA sebagai garansi keikutsertaan mereka.
Termasuk jaminan mutlak bahwa seluruh komponen tim, termasuk pelatih dan ofisial yang terafiliasi dengan kewajiban militer IRGC, harus mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, sebab pada April lalu, Mehdi Taj bersama sejumlah petinggi federasi sempat diusir dan ditolak masuk di perbatasan Kanada menjelang Kongres Tahunan FIFA di Vancouver, akibat pembatalan visa sepihak oleh Menteri Imigrasi Kanada terkait isu IRGC.
Berdasarkan laporan CNN, secercah harapan muncul setelah Gianni Infantino selaku Presiden FIFA turun tangan langsung memberikan jaminan diplomatik.
“Presiden FIFA sudah berjanji kepada kami bahwa semua pemain kami akan mendapatkan visa. Tidak ada alasan mengapa pemain kami sampai tidak mendapatkan visa,” tegas Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali.

Sebagai langkah nyata, beberapa penggawa skuad Iran dilaporkan telah mendatangi Kedutaan Besar AS di Ankara, Turki, untuk memproses aplikasi visa khusus mereka agar bisa mendarat legal di hari pertandingan.
Di saat Amerika Serikat menutup rapat pintunya, kehangatan justru ditunjukkan oleh masyarakat Baja, Meksiko.
Dilansir dari BBC News, otoritas lokal dan klub sepakbola setempat menganggap kehadiran raksasa Asia ini, sebagai sebuah kehormatan besar bagi kota mereka.
- Fasilitas Kelas Satu: Penggunaan Xoloitzcuintle Center di Tijuana, memiliki standar perawatan dan pelatihan atlet profesional tingkat tinggi.
- Akses Penerbangan Mandiri: Pengaturan rute udara melalui maskapai nasional Iran Air, langsung menuju bandara terdekat dari base camp.
- Pernyataan Gubernur: Jaminan keamanan dan kenyamanan dari Gubernur Baja, Marina del Pilar, yang menyatakan wilayahnya siap menyambut skuad Iran layaknya berada di rumah sendiri.
Piala Dunia selalu menjadi panggung di mana batas-batas politik seharusnya melebur di bawah panji sportivitas.
Musim panas ini, ketika peluit pertama dibunyikan di Los Angeles, Timnas Iran tidak hanya akan bertarung melawan sebelas pemain di lapangan, melainkan juga membuktikan bahwa sebuah tim sepakbola mampu melintasi tembok pembatas geopolitik demi sebuah kejayaan olahraga. (*)
Baca juga :





