Boston, AS – Bagi anak-anak yang tumbuh besar di Jerman pada era awal 2000-an, peta sepakbola dunia terasa begitu sederhana.
Tim nasional Jerman akan selalu melangkah ke perempat final, semifinal, menembus final, atau pulang membawa trofi juara dunia.
Namun, romansa masa kecil itu hancur berantakan di Stadion Boston dalam laga babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026, ketika raksasa Eropa itu dipaksa mengepak koper lebih awal.
Tim Panser ditumbangkan secara mengejutkan oleh Paraguay, melalui drama adu penalti yang berakhir tragis. Kekalahan menyakitkan ini memicu gelombang introspeksi diri yang masif, di internal skuad Die Mannschaft.
Alih-alih menjadikan sang pelatih kepala, Julian Nagelsmann, sebagai kambing hitam atas kehancuran taktis tersebut, para pemain pilar seperti kapten Joshua Kimmich dan penyerang Kai Havertz justru pasang badan.
Mereka melindungi sang arsitek yang masih terikat kontrak hingga 2028, sekaligus menegaskan bahwa kesalahan sepenuhnya berada di pundak tim yang bermain di atas lapangan.
Rentetan kegagalan beruntun di turnamen besar kini memaksa Jerman melakukan evaluasi internal yang mendalam, demi membedah mengapa kualitas mereka seolah menguap saat menghadapi situasi kritis.
Hancurnya Ekspektasi Publik Jerman
Sebagai pemimpin di lapangan, rasa kecewa mendalam Joshua Kimmich terlihat jelas, saat ia memberikan analisis pasca-pertandingan yang jujur secara emosional.

Bagi pemain Bayern Munich tersebut, eliminasi di fase awal ini terasa jauh lebih menyengat, karena ia memikul tanggung jawab besar yang gagal ditunaikan.
Kimmich merasa sangat terpukul harus tersingkir dengan status pemimpin kelompok, meskipun ia sempat digeser ke posisi gelandang tengah sebelum babak perpanjangan waktu demi mengubah dinamika permainan.
Meskipun pertanyaan mengenai masa depan sang pelatih langsung mencuat dalam konferensi pers pasca-laga, keharmonisan internal ruang ganti Jerman terbukti sama sekali tidak retak.
Kontrak Nagelsmann yang masih berjalan hingga tahun 2028 mendapat dukungan penuh dari para pemainnya, yang secara terbuka menolak menunjuk telunjuk ke arah sang pelatih kepala.
Kapten Jerman, Joshua Kimmich menegaskan bahwa menyalahkan juru taktik adalah jalan pintas yang salah.
“Saya harap dia tetap percaya sama dirinya sendiri dan kemampuannya, karena tidak ada satu orang pun di ruang ganti yang menyalahkan atau menunjuk telunjuknya ke arah dia. Pada akhirnya, kamilah yang bermain di atas lapangan, dan kami, sebagai Jerman, harusnya bisa mengalahkan Paraguay,” ujar Kimmich dikutip dari FIFA.
Sementara Penyerang Jerman, Kai Havertz yang sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1 namun gagal mengeksekusi penalti pertama, langsung melempar permohonan maaf terbuka tanpa mencari pembelaan.
Bagi skuad Jerman, berlindung di balik nasib buruk babak adu penalti atau keputusan pengadil lapangan adalah hal yang sangat diharamkan.

Kimmich dan Havertz sepakat bahwa tim harus bener-bener berkaca dengan keras, karena gagal menyudahi perlawanan Paraguay dalam waktu normal.
“Yang bisa saya lakukan cuma minta maaf. Kami, para pemain khususnya, tanpa melibatkan pelatih di dalamnya, perlu berkaca dan mengevaluasi diri kami sendiri dengan keras. Tidak boleh ada satu orang pun yang berpikir buat menyalahkan wasit atas hasil ini, atau menyalahkann babak adu penalti. Kalau kita tidak bisa menang selama 120 menit, kita memang layak buat tersingkir. Kita tidak bisa cuma bergantung sama keberuntungan saat menghadapi lawan seperti itu,” ungkap Harvertz.
Otopsi Taktis Alur Permainan
Di sisi lain, Pelatih Jerman, Julian Nagelsmann berbicara secara blak-blakan di saluran TV Jerman, ZDF, mengenai penyakit kronis yang membuat lini serang Die Mannschaft tampil mandul dan mudah dibaca.
Ia menyoroti sirkulasi bola yang terlalu lambat, sehingga gagal membongkar kedisiplinan lawan tepat waktu.
“Kami butuh waktu terlalu lama untuk mulai membuat lawan kerepotan mengejar bola di lapangan. Kami harusnya bisa mengirim bola ke dalam kotak penalti jauh lebih sering, dan kami seharusnya bisa menyudahi pertandingan ini lebih cepat. Permainan kami terlalu lambat.”
Namun, hal yang paling membuat Nagelsmann dongkol adalah kerapuhan barisan pertahanannya, yang sangat mudah ditembus hanya lewat satu momentum serangan balik yang rapi.
“Sayangnya dalam sepakbola, beberapa tim bisa menang cuma dengan taktik yang sangat sederhana, dan Anda harus bisa bertahan dengan benar buat menghadapi taktik seperti itu,” ungkap Nagelsmann kepada ZDF.
Kegagalan di babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 ini, menambah panjang daftar kelam sejarah modern sepakbola Jerman yang dulunya dikenal sebagai spesialis turnamen.
Catatan minor yang terus berulang sejak delapan tahun lalu, kini resmi menjadi kenyataan pahit yang harus mereka terima.
- Tragedi Rusia 2018: Tersingkir secara menyedihkan di akhir babak penyisihan grup dengan status sebagai juara bertahan.
- Krisis Qatar 2022: Langkah besar mereka kembali terhenti secara mengejutkan di rintangan pertama fase grup.
Meskipun pada edisi kali ini mereka setidaknya berhasil menembus fase gugur, hasil akhir tetap menunjukkan bahwa Jerman jatuh sangat jauh dari target tinggi yang mereka tetapkan sendiri.
Di tengah hujan kritik publik, keputusan skuad untuk mempertahankan Julian Nagelsmann menjadi fondasi awal dari proses panjang introspeksi ini.
Jerman kini harus pulang, bukan untuk meratapi nasib di atas rumput adu penalti, melainkan untuk merombak total mentalitas lambat mereka agar identitas sebagai kekuatan menakutkan dunia tidak selamanya terkubur menjadi sekadar cerita masa kecil. (*)
Baca juga :





