Bangkok, Thailand – Ketegangan memuncak di perbatasan Thailand dan Kamboja. Dentuman artileri bergema, jet tempur meraung di langit, dan tank-tank berjejer siap tempur.
Selama dua hari, wilayah yang seharusnya damai itu berubah menjadi medan perang, menyeret ribuan warga sipil ke dalam ketakutan dan pengungsian.
Ini bukan sekadar bentrokan perbatasan biasa, ini adalah pertempuran mematikan yang telah merenggut nyawa 16 orang dan memaksa lebih dari 138.000 warga Thailand serta 23.000 warga Kamboja meninggalkan rumah mereka, mencari perlindungan dari amuk peluru dan bom.
Kamboja, melalui Duta Besarnya untuk PBB, Chhea Keo dengan lantang menyerukan “gencatan senjata segera – tanpa syarat”.
Ia juga menegaskan pentingnya solusi damai untuk perselisihan ini. Namun, di sisi lain, Thailand juga mengisyaratkan kesediaannya untuk berunding, bahkan dengan mediasi Malaysia.
“Kami siap, jika Kamboja ingin menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik, bilateral, atau bahkan melalui Malaysia,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, dikutip dari The Guardian.
Pertanyaannya, apakah kedua belah pihak benar-benar siap untuk duduk bersama, ataukah bara konflik akan terus membakar hingga menjadi perang terbuka ?
Insiden ini adalah eskalasi dramatis dari sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama. Sejak tahun 2008 hingga 2011, pertempuran serupa telah menewaskan setidaknya 28 orang.
Keputusan Pengadilan PBB pada tahun 2013 sempat meredakan ketegangan, namun kematian seorang tentara Kamboja pada bulan Mei lalu kembali memicu bara yang kini berubah menjadi kobaran api.
Pj Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai bahkan sempat memperingatkan, “Jika situasi ini meningkat, itu bisa berkembang menjadi perang.”
Dunia kini menanti, apakah PBB dan negara-negara tetangga mampu menengahi dan mencegah konflik ini berlanjut menjadi tragedi yang lebih besar. (YA)
Baca juga :





