Kepergian Mohamed Salah, Tangisan di Balik Topeng Sang Predator Liverpool!

Liga Inggris: Air Mata di Anfield, Raja Mesir Turun Takhta, Akhir Era Baru The Reds

Liverpool, Inggris – Ada satu momen unik di koridor Melwood pada musim panas 2017.

Seorang pria Mesir berusia 25 tahun berdiri menatap replika trofi Champions League, lalu memandang dinding yang memuat deretan 18 gelar liga milik Liverpool.

Saat itu, trofi Premier League absen dari lemari karena puasa gelar 27 tahun. 9 tahun kemudian, pada Minggu sore di Anfield, Mohamed Salah berjalan keluar dari lapangan yang sama sebagai salah satu legenda terbesar klub.

Salah menyudahi laga terakhirnya di musim 2025-2026 melawan Brentford, dengan air mata yang tak lagi bisa ia bendung.

Pria yang dulu datang dengan ambisi membuktikan diri setelah masa sulit, kini resmi menutup buku karier ikoniknya di Merseyside dengan warisan sejarah yang hampir tak tertandingi.

Kepergian Mohamed Salah bersama bek kiri Andy Robertson menandai berakhirnya era emas sembilan tahun, yang menghasilkan sembilan trofi di bawah asuhan Jurgen Klopp hingga Arne Slot.

Mohamed Salah & Andy Robertson menutup buku karier di Liverpool – Foto: Dok. LFC

Pertandingan pamungkas Premier League musim 2025-2026 melawan Brentford yang berakhir imbang 1-1, menjadi panggung perpisahan emosional bagi publik Anfield.

Hasil ini sekaligus memastikan The Reds mengunci posisi kelima, untuk mengamankan tiket kualifikasi kompetisi Eropa musim depan.

Pengumuman resmi keputusan Salah untuk pergi pada 24 Maret 2026 lalu, akhirnya memuncak dalam upacara penghormatan pasca-pertandingan yang dipenuhi atmosfer haru dari para Kopites.

Menulis Ulang Buku Rekor Liverpool

Bagi pemain yang dikenal dingin di depan gawang dan tangguh di atas lapangan, momen perpisahan ini meruntuhkan dinding pertahanan emosional Mohamed Salah.

Dalam wawancara emosional pasca-laga dengan Sky Sports, Salah mengakui kedalaman rasa sedihnya meninggalkan klub yang telah ia bela hampir sedekade.

Mohamed Salah menutup buku karier di Liverpool – Foto: Dok. LFC

“Saya banyak menangis, saya pikir lebih banyak daripada yang pernah saya lakukan di sepanjang hidup saya! Tapi memang sangat berat untuk meninggalkan tempat seperti ini,” ujar Mohamed Salah.

“Kalian selalu melihat saya tangguh dan agresif, tapi di dalam hati saya merasakannya seperti seorang bayi. Kami meninggalkan masa muda kami di sini, berbagi segalanya dari awal sampai akhir.”

Manajer Liverpool, Arne Slot, turut memberikan penghormatan tinggi atas dedikasi luar biasa yang ditunjukkan oleh dua pemain pilarnya tersebut selama masa bakti mereka di Merseyside.

“Dua legenda yang dalam sembilan tahun terakhir berhasil memenangkan sembilan trofi di sini. Klub ini tahu betul bagaimana cara merayakan gelar juara liga, klub ini tahu cara menghadapi tragedi, dan klub ini pastinya juga tahu cara merayakan dua pemain hebat ini,” kata Arne Slot.

Sejak dibeli dari AS Roma pada Juni 2017, Mohamed Salah terus-menerus memaksa para ahli statistik bekerja ekstra di hari pertandingan.

Ia bukan sekadar penyerang sayap biasa, melainkan mesin gol komplet yang menghancurkan berbagai rekor legendaris klub.

Mohamed Salah menutup buku karier di Liverpool – Foto: Dok. LFC
  • Raja Gol Modern: Mencetak 257 gol dan 120 asis dari 442 penampilan di semua kompetisi. Ia bertengger sebagai pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang sejarah klub, hanya di bawah Ian Rush (346 gol) dan Roger Hunt (285 gol).
  • Penguasa Premier League: Menjadi pencetak gol terbanyak (191 gol) sekaligus penyumbang asis terbanyak (93 asis) sepanjang masa bagi Liverpool di Premier League, melewati rekor Robbie Fowler dan Steven Gerrard.
  • Musim Debut Fantastis: Menyarangkan 44 gol di semua kompetisi pada musim debutnya (2017-2018), memecahkan rekor Fernando Torres (33 gol).
  • Spesialis Penghancur: Menjadi momok terbesar Setan Merah dengan koleksi 16 gol, termasuk torehan hat-trick historis di Old Trafford pada kemenangan 5-0.
  • Rekor Eropa: Memuncaki daftar pencetak gol terbanyak Liverpool di kompetisi Eropa dengan 53 gol (48 di antaranya di Champions League), serta mencetak hat-trick tercepat dalam sejarah Champions League (6 menit 12 detik melawan Rangers).

Sentuhan Sempurna Musim 2024-2025

Musim 2024-2025 di bawah kepelatihan Arne Slot, Salah menjadi salah satu pembuktian efektivitas tertinggi seorang pesepakbola modern. Ia mengemas total 57 kontribusi gol (34 gol, 23 asis) dari 52 penampilan di semua kompetisi.

Mohamed Salah menutup buku karier di Liverpool – Foto: Dok. LFC

Khusus di Premier League, ia mencatatkan 47 kontribusi (29 gol dan 18 asis, di mana keduanya menjadi yang tertinggi di liga).

Catatan ini merupakan sebuah rekor baru untuk satu pemain, dalam satu musim kompetisi dengan format 38 pertandingan.

Performa masif ini krusial dalam membawa Liverpool mengangkat trofi juara Premier League untuk kedua kalinya di era Salah, dan kali ini dirayakan langsung secara magis di hadapan para suporter yang memadati stadion.

Di akhir perjalanannya, Salah juga mengukuhkan diri sebagai pemegang rekor Premier League untuk kontribusi gol terbanyak bagi satu klub tunggal.

Ia mengoleksi total 284 kontribusi (191 gol, 93 asis), melampaui rekor Wayne Rooney untuk Manchester United (276).

Warisan Sang Juara Serial

Mohamed Salah pergi dengan koleksi lemari trofi yang penuh. Gelar kolektifnya mencakup dua trofi Premier League, Champions League, FIFA Club World Cup, UEFA Super Cup, FA Cup, serta sepasang trofi Carabao Cup.

Foto: Dok. LFC

Secara individu, torehannya menyamai legenda terbesar sepakbola Inggris. Ia mengoleksi empat Sepatu Emas Premier League (sejajar dengan Thierry Henry) dan tiga penghargaan PFA Players’ Player of the Year. Ia juga meraih tiga penghargaan FWA Footballer of the Year, serta tujuh kali memenangkan gelar Player of the Month (setara dengan Sergio Aguero dan Harry Kane).

Sebelum melangkah pergi dari Anfield, Sang Raja Mesir meninggalkan sebuah pesan penting bagi generasi penerus di ruang ganti Liverpool. Sebuah prinsip yang membedakan antara pemain berbakat dengan seorang legenda sejati.

“Klub ini sekarang bertarung untuk memperebutkan segalanya. Para penggemar tidak akan menerima hasil yang kurang dari itu. Mereka tidak terlalu peduli dengan hasil akhir asalkan kalian mau memeras keringat dan memberikan darah kalian di sini. Mereka akan mencintai kalian selamanya,” pesan Salah.

Sembilan tahun lalu, Mohamed Salah berjanji akan menyerahkan segalanya untuk klub. Kini, saat ia berjalan menjauh menuju lorong Anfield untuk terakhir kalinya, seluruh dunia tahu bahwa janji itu tidak hanya ditepati.

Salah telah menyerahkan semuanya pada setiap jengkal rumput Anfield. Terima kasih, Mo Salah. Sang Raja telah turun takhta, namun warisannya akan abadi selamanya. (*)

Baca juga : 

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *