Milan, Italia – Panggung sepakbola Italia mendadak diguncang keputusan ekstrem, ketika pemilik AC Milan dari RedBird Capital Partners secara resmi memecat empat petinggi klub sekaligus.
Pelatih Kepala, Massimiliano Allegri, CEO, Giorgio Furlani, Direktur Olahraga, Igli Tare, dan Direktur Teknik, Geoffrey Moncada, dipecat pasca-kekalahan memalukan 1-2 dari Cagliari di laga pamungkas Serie A.
Keputusan radikal yang dijuluki media sebagai “Monday Night Massacre” atau Pembantaian di Senin Malam ini diambil langsung Pemimpin Tertinggi RedBird, Gerry Cardinale, setelah I Rossoneri secara tragis menyia-nyiakan keunggulan 1-0.
Padahal, Milan hanya membutuhkan satu poin saja untuk mengunci posisi empat besar, demi tiket kelolosan ke Liga Champions.

Hal itu mengingat pasukan Allegri sudah mengantongi keunggulan dua poin, serta rekor head-to-head yang lebih baik dari Como. Kegagalan fatal di San Siro tersebut seketika memicu kemarahan jajaran pemilik, yang langsung merilis pernyataan resmi blak-blakan dan menyebut jalannya musim ini sebagai sebuah “kegagalan mutlak.”
Di tengah badai pembersihan massal yang menyapu bersih seluruh operasional sepakbola klub tersebut, hanya legenda hidup sekaligus penasihat khusus klub, Zlatan Ibrahimovic, yang selamat dari pemecatan dan kini mengemban misi besar untuk membangun ulang struktur tim dari nol.
Vonis “Kegagalan Mutlak”
Perjalanan AC Milan di sepanjang musim ini sebenarnya sempat menjanjikan cerita indah yang sarat ambisi.
Di sebagian besar jalannya kompetisi Serie A, klub berseragam merah-hitam ini kokoh berdiri di posisi dua besar dan memiliki peluang yang sangat meyakinkan untuk bersaing memperebutkan gelar juara Scudetto.
Namun, drama sesungguhnya justru tersaji pada fase akhir kompetisi, di mana performa tim merosot tajam secara tidak konsisten.

Puncaknya terjadi saat menjamu Cagliari, tim yang berlaga tanpa beban karena sudah tidak memiliki target apa pun di liga. Milan sempat unggul 1-0 dan berada di ambang kelolosan aman ke Liga Champions.
Namun, organisasi permainan yang rapuh membuat keunggulan tersebut berbalik menjadi kekalahan tragis 1-2, yang meruntuhkan harapan publik San Siro.
Kehilangan poin krusial di pekan terakhir membuat jajaran pemilik RedBird meradang. Dalam rilis pers resminya, manajemen secara kejam meremukkan pencapaian tim lewat pernyataan tertulis yang sangat blak-blakan.
“Fase akhir kompetisi benar-benar tidak konsisten dengan performa kita sebelum itu, dan kekalahan mengecewakan di laga pemungkas telah mengubah musim ini menjadi sebuah kegagalan mutlak. Sekarang adalah waktunya untuk perubahan dan reorganisasi menyeluruh dalam operasional sepakbola klub,” dikutip dari pernyataan resmi AC Milan.
Pembersihan Sektor Olahraga
Keputusan bersih-bersih skuad ini tidak hanya mengakhiri rapor taktis Massimiliano Allegri, yang mencatatkan 10 kekalahan dari 42 laga kompetitifnya, melainkan juga menyapu bersih jajaran eksekutif di balik layar.

- Direktur Olahraga Igli Tare yang baru bergabung pada musim panas lalu bersama Allegri terpaksa harus mengepak barangnya setelah masa baktinya disapu bersih dalam kurun waktu kurang dari 12 bulan.
- Nasib serupa menimpa Geoffrey Moncada, yang sejatinya telah mengabdi sebagai kepala pemandu bakat sejak 2018 sebelum dipromosikan menjadi direktur teknik pada tahun 2023.
- Di sisi lain, pendepakan CEO Giorgio Furlani membawa dimensi politis dan finansial yang jauh lebih dalam. Furlani telah duduk di jajaran direksi sejak 2019 dan naik menjadi CEO pada 2022 sebagai perwakilan resmi dari mantan pemilik klub, Elliott Management.
Begitu Gerry Cardinale berhasil melakukan langkah pembiayaan kembali dan melunasi utang vendor (vendor loan) kepada pihak Elliott, keberadaan jasa Furlani secara otomatis tidak lagi dibutuhkan di dalam tubuh manajemen AC Milan.
Kini, San Siro resmi memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian sekaligus harapan. Gerry Cardinale bersama Zlatan Ibrahimovic dipastikan harus berpacu dengan waktu dalam hitungan pekan.
Mereka harus memilih, memfinalisasi, dan menyusun struktur tim yang benar-benar baru, mulai dari kursi pelatih, direktur olahraga, hingga CEO, agar Milan tidak kembali kehilangan arah sebelum peluit pertama musim depan dibunyikan. (*)
Baca juga :





