Sunderland, Inggris – Di bawah kepungan atmosfer membara yang menggetarkan seisi Stadium of Light pada laga pamungkas, Chelsea terpaksa mengubur impian Eropa mereka setelah takluk dengan skor tipis 1-2 dari tuan rumah Sunderland.
Tim tamu sebenarnya sempat membuka harapan lewat hantaman keras Cole Palmer, namun, respons klinis tuan rumah melalui Trai Hume serta gol bunuh diri Malo Gusto tetap mengunci kemenangan krusial bagi Sunderland.
Kegagalan menyakitkan ini menjadi pil pahit yang harus ditelan Chelsea, akibat kombinasi rapuhnya koordinasi pertahanan serta runtuhnya disiplin pemain di babak kedua.
Runtuhnya Resistensi Pertahanan The Blues
McFarlane sejatinya mencoba melakukan pendekatan agresif sejak awal sepak mula, dengan merombak formasi Chelsea menjadi 3-4-2-1 dan memasang Joao Pedro sebagai ujung tombak.

Peluang instan langsung tercipta saat Pedro Neto melepaskan umpan terobosan cerdik ke arah Cole Palmer, namun tendangan mendatarnya masih terlalu lemah sehingga mudah diamankan kiper Robin Roefs.
Sunderland yang juga mengusung ambisi besar ke zona Eropa, langsung merespons lewat tembakan keras Enzo Le Fee yang memaksa Robert Sanchez melakukan penyelamatan gemilang.
- Gelombang tekanan bertubi-tubi dari tim tuan rumah, akhirnya meruntuhkan pertahanan Chelsea tepat pada menit ke-25 pertandingan.
- Berawal dari skema umpan jauh Robin Roefs, bola berhasil disundul Luke O’Nien menuju jalur lari Trai Hume, yang tanpa melakukan kontrol langsung melepaskan tendangan voli first-time mematikan, yang mengubah papan skor menjadi 1-0 hingga babak pertama usai.
Memasuki paruh kedua, Sunderland sama sekali tidak mengendurkan intensitas serangan cepat mereka.

- Lini belakang The Blues dieksploitasi Enzo Le Fee, yang dengan cerdik mengirimkan umpan tarik ke dalam kotak enam yard.
- Bola yang sejatinya disambar dengan sepakan meleset Brobbey, justru membentur badan Malo Gusto dan berbelok arah masuk ke gawang sendiri.
- Harapan sempat membubung tinggi pada menit ke-56, ketika Cole Palmer mendapatkan ruang tembak dari jarak 20 yard dan memperkecil defisit gol menjadi 1-2.
Sayangnya, momentum kebangkitan itu langsung sirna hanya dalam kurun waktu lima menit. Wesley Fofana dinilai melakukan pelanggaran keras terhadap Wilson Isidor, sehingga wasit tanpa ampun mengacungkan kartu kuning kedua yang berujung kartu merah langsung.
Bermain dengan sepuluh orang membuat lini pertahanan Chelsea compang-camping, dan drama mencapai puncaknya ketika wasit memberikan tambahan waktu hingga 10 menit di masa injury time.

Namun, sebagian besar waktu krusial tersebut habis terbuang, akibat banyaknya insiden pelanggaran serta taktik penundaan permainan dari tuan rumah yang merusak ritme serangan.
Skor 2-1 tetap bertahan hingga peluit panjang berbunyi, menandai berakhirnya kampanye domestik musim ini dengan rapor yang sangat antiklimaks bagi kubu London Barat.
Hasil minor di hari terakhir kompetisi ini berakibat fatal bagi armada McFarlane, yang resmi melempar The Blues ke peringkat ke-10 klasemen akhir dengan koleksi 52 poin dari 38 pertandingan.
Kekalahan itu juga sekaligus menutup rapat pintu gerbang, menuju kualifikasi kompetisi antarklub Eropa musim depan. (*)
Baca juga :





