Rusia – Pada Selasa (07/07/26), Komite Olimpiade Internasional (IOC) memberikan pengumuman bahwa penangguhan yang dijatuhkan kepada Komite Olimpiade Rusia (ROC) kini telah diangkat.
“Dewan Eksekutif (EB) Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk sementara telah mencabut penangguhan Komite Olimpiade Rusia (ROC) yang berlaku sejak 12 Oktober 2023.” Tulis IOC melalui website resmi mereka.
“Keputusan itu diambil setelah analisis menyeluruh oleh Komisi Urusan Hukum IOC, mengingat bahwa ROC tidak lagi memasukkan sebagai anggotanya setiap organisasi olahraga regional di wilayah yang berada di bawah yurisdiksi Komite Olimpiade Nasional (NOC) Ukraina. Selain itu, ROC menegaskan bahwa mereka tidak, dan tidak akan, melakukan aktivitas apa pun di wilayah tersebut.”

Kebijakan ini membuka kesempatan bagi para atlet Rusia untuk berpartisipasi di ajang Olimpiade Musim Panas 2028 dibawah nama negaranya. Sebelumnya, pada edisi 2020 dan 2024 lalu, atlet Rusia berkompetisi di Olimpiade sebagai wakil netral.
Meskipun demikian, IOC untuk saat ini belum memberikan izin untuk pengibaran bendera dan nyanyian lagu kebangsaan Rusia di ajang Olimpiade. Selain itu, IOC juga mencegah penggelaran ajang olahraga internasional di Rusia, dan penjabat atau wakil pemerintah Rusia dilarang menghadiri ajang Olimpiade.
Atlet Rusia yang ingin berkompetisi di Olimpiade juga wajib mengikut beberapa tes doping yang diatur oleh Badan Pengujian Internasional.
Keputusan tersebut tentunya mengundang kecaman dari dunia olahraga, mengingat bahwa saat ini Rusia masih terlibat dalam perang invasi dengan Ukraina.

Pemain tenis asal Ukraina, Marta Kostyuk, memberikan pendapatnya mengenai berita tersebut. Dilansir dari The Japan Times, Kostyuk, yang baru saja mencapai babak semifinal Wimbledon 2026, mengecam keterlibatan atlet Rusia, yang memiliki peluang untuk berkompetisi di Olimpiade mendatang.
“Saya pikir itu sangat, sangat jauh dari permainan yang adil untuk semua negara yang terlibat di sini, tidak hanya untuk Ukraina.” Ujar Kostyuk.
“Saya 100% tidak setuju dengan keputusan ini. Namun saya merasa banyak orang yang angkat bicara mengenai masalah ini. Mereka jelas tidak setuju juga.”
Berdasarkan laporan The Guardian, Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) juga mengambil langkah untuk memblokir kembalinya tim Rusia menuju turnamen sepak bola internasional. Sejak Februari 2022, tidak lama setelah awal invasi Ukraina, Timnas Rusia dilarang berpartisipasi dalam seluruh kompetisi FIFA dan UEFA. Selain itu, klub-klub asal Rusia juga diskualifikasi dari kompetisi Eropa.
Meskipun demikian, dalam wawancaranya dengan Sky Sports pada Februari lalu, presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan bahwa FIFA akan meninjau kemungkinan untuk mengintegrasikan kembali Rusia.
Menteri Olahraga Rusia, Mikhail Degtyarev, menunjukkan kepuasaannya mengenai keputusan IOC. Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Degtyarev menyatakan bahwa “ini adalah jalan yang jelas untuk memastikan bahwa semua federasi semua olahraga mengembalikan tim nasional Rusia dan mengembalikannya ke kompetisi internasional,”
IOC sendiri juga tidak mengabaikan situasi antara Rusia dan Ukraina. Dalam pengumuman yang sama, IOC memberikan pernyataan yang mengecam perang tersebut.
“Secara lebih luas, IOC mengutuk perang, konflik bersenjata dan kekerasan yang menyebabkan penderitaan manusia dimanapun hal itu terjadi. Pada saat ketidakstabilan dan perpecahan semakin meningkat di seluruh dunia, IOC tetap berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian melalui olahraga di antara masyarakat dan negara.”
Kebijakan IOC untuk mengangkat penangguhannya terhadap ROC diumumkan tepat setelah periode kualifikasi Olimpiade Musim Panas 2028 dan Olimpiade Muda Musim Dingin 2028 dimulai. (VT)





