Dallas, AS – Ada momen di mana waktu seolah berhenti berputar bagi jutaan warga Mesir, dan momen itu terjadi ketika Mohamed Salah berdiri sendirian di titik putih Cotton Bowl, Dallas.
Menahan rasa sakit akibat cedera hamstring yang membayanginya sepanjang minggu, sang kapten melangkah dengan beban sejarah sebuah bangsa di pundaknya.
Alih-alih melepaskan tembakan keras, ia justru mencungkil bola dengan sebuah kecerdikan Panenka yang teramat dingin—sebuah pernyataan arogan yang menegaskan bahwa malam itu, takdir memang milik para Firaun.
Tim nasional Mesir sukses mengukir sejarah baru setelah menumbangkan Australia lewat babak adu penalti dengan skor 4-2 menyusul hasil imbang 1-1 pada laga fase gugur Piala Dunia FIFA, Sabtu (04/07/26) dinihari.
Skuat asuhan Hossam Hassan sempat memimpin terlebih dahulu lewat sundulan Emam Ashour, sebelum disamakan gol bunuh diri Mohamed Hany.
Kemenangan adu penalti yang dramatis ini tidak hanya mencatatkan sejarah sebagai kemenangan fase gugur pertama Mesir di putaran final Piala Dunia, tetapi juga resmi mengunci tiket babak 16 besar.
Kutukan Socceroos Berlanjut di Firaun
Pertandingan dimulai dengan tempo tinggi dan langsung menyajikan ketegangan. Australia nyaris membuka skor secara mengejutkan di menit-menit awal, namun dewi fortuna masih berpihak pada Mesir karena bola membentur mistar gawang.
- Justru Mesir yang berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-13 melalui skema bola mati. Tembakan pertama Emam Ashour sempat diblok barisan pertahanan lawan.
- Namun bola liar langsung dikuasai Karim Hafez yang kemudian mengirimkan kembali umpan silang akurat ke dalam kotak penalti, dan kali ini diselesaikan Ashour dengan menyundul bola masuk di tiang jauh.

Sirkulasi permainan skuat muda Australia kian berat setelah bek sayap andalan mereka, Jordan Bos, mengalami cedera lutut parah.
Memasuki babak kedua, Mesir sebenarnya berpeluang emas membunuh pertandingan lebih cepat ketika Omar Marmoush berhasil lolos dari kawalan, namun sepakan mendatarnya justru bergulir melebar dari tiang gawang.
Kegagalan memanfaatkan peluang itu berakibat fatal. Pada menit ke-55, Australia sukses memanfaatkan momentum lewat skema bola mati.
Aiden O’Neill melepaskan umpan silang melengkung dari eksekusi tendangan bebas, dan bek Mesir Mohamed Hany yang berniat menghalau bola justru menyundulnya masuk ke gawang sendiri.
Skor berubah menjadi 1-1, sekaligus menjadi gol bunuh diri kedua Hany di sepanjang turnamen ini. Skor imbang itu bertahan hingga laga usai dan babak tambahan.
Jelang memasuki babak penalti, Tony Popovic mengambil keputusan perjudian besar. Ia menarik keluar Kiper Patrick Beach untuk memasukkan kiper veteran Mat Ryan yang dikenal sebagai spesialis penalti.
Namun, strategi psikologis itu runtuh di hadapan ketenangan mental para algojo Mesir. Seluruh eksekutor The Pharaohs sukses menjalankan tugasnya dengan sempurna tanpa cela, termasuk penalti Panenka Mohamed Salah.
Sebaliknya, dua penendang utama Australia, Harry Souttar dan Lucas Herrington, gagal menceploskan bola. Eksekusi penalti penentu Hossam Abdelmaguid, resmi menyegel kemenangan 4-2 untuk skuat Hossam Hassan.

Mohamed Salah resmi dinobatkan sebagai Player of the Match, berkat pengaruh kepemimpinannya dan eksekusi penalti krusialnya.
“Hari ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya, bisa mengukir sejarah bersama negara saya. Saya mencoba memberikan yang terbaik dan tetap bermain meskipun sedang menahan sakit, karena inilah yang saya lakukan demi negara. Kami belum pernah sekalipun lolos dari fase grup, dan sekarang kami berhasil melaju ke babak berikutnya. Ini adalah momen yang harus dinikmati,” ujar Salah dikutip dari FIFA.
Hasil ini memperpanjang catatan kelam Australia, yang selalu kalah dalam tiga penampilan mereka di fase gugur Piala Dunia (tumbang 1-2 dari Italia di 2006, kalah 1-2 dari Argentina di 2022, dan takluk dari Mesir pada 2026).
“Ini adalah cara paling menyakitkan untuk kalah dalam sebuah pertandingan. Kami sudah memberikan diri kami kesempatan terbaik untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dicapai tim Australia mana pun sebelum ini, namun pada akhirnya kami harus kalah di babak adu penalti,” ungkap Jackson Irvine, Gelandang Australia.
Bagi Mesir, laga di Dallas bukan sekadar tentang memenangkan tiket lolos ke babak berikutnya, ini adalah tentang runtuhnya sebuah tembok mentalitas yang selama puluhan tahun memenjara mereka di panggung dunia.
Keberhasilan bertahan di bawah tekanan, mengatasi gol bunuh diri, dan memenangkan adu penalti dengan cara yang dingin adalah bukti bahwa generasi asuhan Hossam Hassan ini memiliki struktur mental yang berbeda. (*)
Baca juga :





